Ambon-Di balik hiruk-pikuk malam Kota Ambon, tersembunyi sebuah perjuangan yang membakar lebih dari sekadar arang jagung. Setiap hembusan asap dari gerobak sederhananya membawa harapan setinggi cita-citanya, Senin (21/10).
Dialah Windy Syalwa Mutmainna, mahasiswi penerima beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-Kuliah), yang kini menuntut ilmu di Fakultas Hukum, Universitas Pattimura, Maluku. Pagi hari ia menyimak hukum pidana dan perdata di bangku kuliah, namun saat malam tiba, ia beralih peran menjadi penjual jagung bakar.
Tangannya yang cekatan mengipasi bara api, adalah tangan yang kelak ingin memegang palu keadilan. Mimpinya adalah menjadi hakim, jaksa, atau pengacara ternama. Kisahnya adalah nyanyian tentang ketekunan, mimpi besar, dan pengorbanan yang tak terucapkan demi mengubah nasib, seakan membuktikan bahwa kesulitan ekonomi hanyalah jeda, bukan akhir dari sebuah impian.
Wajah Windy terlihat lelah, namun sepasang matanya selalu memancarkan tekad yang membara. Sejak mentari terbit hingga menjelang senja, ia adalah mahasiswi hukum yang rajin.
"Saya ingin menjadi Hakim atau Jaksa. Bukan sekadar mengejar jabatan, tapi karena saya tahu betul bagaimana rasanya ketidakadilan dan keterbatasan. Saya juga ingin memberantas korupsi," ujarnya bersemangat, sambil sesekali mengoleskan mentega ke jagung yang siap dibakar.
Hampir Tidak Bisa Kuliah
Lahir di Ambon, sedari SMP, Windy dan kedua orang tuanya tinggal dengan menyewa dua kamar kos untuk ditinggali Windy dan orang tuanya. Sebelumnya tinggal di tanah milik orang lain, namun harus pindah karena pemiliknya datang. Windy berasal dari keluarga kurang mampu, ayahnya berprofesi sebagai nelayan.
Kekhawatiran selalu merebak di pikirannya, bahwa ia tak akan pernah merasakan bangku pendidikan tinggi. Kendala biaya, membuatnya merasa, dirinya tak akan pernah duduk di bangku kuliah.
"Sebenarnya, saya takut untuk maju di dunia perkuliahan karena orang tua saya sudah lanjut usia. Bapak dulu nelayan, cuma karena memang sudah berusia 60 tahun jadi sudah enggak memungkinkan, juga cuaca yang tidak menentu. Akhirnya kami putuskan untuk jualan kecil kecilan. Karena kalo jadi nelayan resikonya juga besar," jelas Windy.
Takdir berkata lain, Program KIP-Kuliah menjadi titik terang yang membuka jalannya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Selama berkuliah, Windy mengaku berbagai tantangan terus menghadang terutama dari diri sendiri. Ia berkisah, dirinya sering overthinking akan masa depannya. Tapi, Windy menanamkan satu tekad kuat untuk menamatkan pendidikannya dan mengubah hidup keluarganya.
Mewarisi semangat Kapiten Pattimura, Windy bertekad untuk keluar dari keterbatasan pendidikan. Program KIP-Kuliah dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menjadi jembatan bagi Windy untuk mewujudkan cita-citanya. Dengan KIP-Kuliah Windy dapat menempuh pendidikan tinggi meski dalam keterbatasan ekonomi.
Jejak Perjuangan di Gerobak Malam
Gerobak jagung bakar itu adalah saksi bisu perjuangan Windy. Ia memulai shift malamnya tepat setelah kuliah usai. Dengan modal seadanya dan semangat yang tak terbatas, ia menggelar dagangannya di sudut jalan yang ramai.
Uang hasil dagangan bukan hanya untuk biaya hidup sehari-hari berkuliah, tetapi juga untuk membantu keluarganya, yang menggantungkan harapan padanya.
"Jam 8 pagi ada kuliah online. Dari jam 11 sampai jam dua siang itu free biasanya digunakan untuk persiapan dagang jagung bakar seperti menyiapkan bumbu untuk jagung bakar dan kebutuhan dagangan jasuke (jagung susu keju, red). Jam 4 kuliah offline biasanya selesainya jam setengah 6 atau setengah 7. Pulang, tidak ganti baju langsung bantu jualan," tutur Windy sembari menyeka air matanya.
Ia mengaku kerap berjualan hingga hari berganti. Saat berjualan itupun, sesekali ia membuka buku dan catatan perkuliahannya. Kegiatan ini rutin setiap malam, dan paginya Windy lanjut kuliah. Acapkali sambil membantu jualan, Windy pun belajar untuk mempersiapkan ujian.
"Jualan sampai jam 12 malam kadang jam 1 kalau sedang ramai, setelahnya merapikan peralatan dagang. Kalau lagi kosong saya gunakan untuk belajar," terangnya.
Ada kalanya ia merasa malu. Ketika teman-teman kuliahnya bercerita tentang kafe atau bioskop, Windy sibuk menyiapkan arang dan bumbu. Pernah sekali waktu, seorang teman kuliah melintas dan mengenali dirinya.
"Saat itu rasanya ingin lari dan bersembunyi. Tapi kemudian saya sadar, rasa malu tidak akan membayar biaya kuliah atau mewujudkan cita-cita saya," kenangnya, dengan air mata yang menggenang.
Beasiswa KIP-Kuliah: Api Semangat di Tengah Dingin Malam
Kehadiran Beasiswa KIP-Kuliah bagai api penyemangat di tengah dingin malam. Beasiswa ini memang telah membebaskan Windy dari beban biaya perkuliahan, namun biaya hidup dan kebutuhan praktikum tetap harus dipenuhi sendiri.
Di sela-sela melayani pembeli, ia sering memanfaatkan waktu luang untuk membaca buku atau mencatat poin-poin penting kuliah. Aroma asap jagung yang pekat bercampur dengan aroma tinta dari buku catatan hukumnya, menjadi sebuah hal yang mengharukan dari cerminan tekad yang kuat. Ia belajar di bawah rembulan, ditemani deru ombak pesisir pantai, dan bau asap yang menempel di seluruh pakaiannya.
Beratnya berdagang sembari berkuliah tak pernah dikeluhkan Windy. Ia selalu ingat bahwa perjuangan orangtua untuk membesarkannya, harus dibalas dengan prestasi yang membahagiakan keduanya.
"Yang saya pikirkan adalah bagaimana saya bisa menyelesaikan pendidikan saya supaya orang tua saya bisa bangga dengan apa yang sudah mereka berikan kepada saya. Mengembalikan apa yang sudah diberikan kepada saya, dan membuat pembuktian kalau anak saya juga bisa loh menjadi seperti orang orang di luar sana," tegas Windy.
Lelah yang dirasakan Windy selalu hilang ketika ia mengingat sosok orangtuanya. Yang memotivasi adalah orang tua, ibu bapaknya.
"Kami mendapat cacian dan makian, saya melihat bagaimana mereka bersusah payah menghidupi saya, membuat mereka bangga, dan membuat mereka lebih dihargai oleh orang orang,” ucapnya.
Sebelum mengakhiri perbincangan, Windy menyampaikan pesan yang tulus untuk kedua orang tuanya, “Mama deng Papa tenang-tenang saja. Insyaallah Windy bisa selesai kuliah. Windy bisa bikin Mama Papa bangga dan buktikan ke orang-orang yang pandang kita sebelah mata kalau kita juga bisa.”
Bagi teman-teman seusianya, ia berpesan agar tak takut bermimpi besar karena pemerintah sudah memfasilitasi banyak beasiswa untuk dapat lanjut berkuliah.
“Teman- teman bisa mencari informasi karena Banyak sekali beasiswa yang bisa teman teman dapatkan. Jangan pernah menyerah untuk mewujudkan cita cita,” tutur Windy semangat.
Kisah Windy adalah pengingat yang kuat bahwa latar belakang ekonomi bukanlah penentu masa depan. Ia mengajarkan kita bahwa mimpi yang besar menuntut pengorbanan yang besar pula.
?"Setiap malam saya membakar jagung, tapi setiap pagi, saya membakar semangat saya untuk menjadi Hakim atau Jaksa. Saya tidak akan berhenti sampai saya bisa meletakkan palu keadilan itu di atas meja," tutup Windy, sambil tersenyum tulus, senyuman yang jauh lebih manis dan hangat dari jagung bakar terlezat sekalipun.
Windy adalah harapan Maluku, simbol bahwa ketekunan, pada akhirnya, akan selalu memenangkan pertarungan melawan keterbatasan. Di bawah langit malam Ambon, di antara asap bara jagung bakar dan tawa pembeli, Windy menyalakan harapannya perlahan namun pasti. Kisah Windy, menjadi bukti bagaimana KIP-Kuliah bukan sekadar bantuan finansial, melainkan juga jembatan harapan bagi generasi muda di berbagai pelosok negeri.
Bagi Windy, KIP-Kuliah bukan hanya tiket menuju bangku kuliah, tetapi juga langkah nyata untuk memutus rantai keterbatasan dan menyalakan masa depan yang lebih terang, bagi dirinya, keluarganya, dan tanah kelahirannya.
Humas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak #Pentingsaintek #Kampusberdampak #Kampustransformatif






